Pengobatan Demam Berdarah

Pengobatan Demam Berdarah

“dilansir dari laman Alodokter” Minum banyak cairan dan istirahat yang cukup serta mengkonsumsi obat penurun panas untuk meredakan demam, hal ini salah satu pengobatan demam berdarah yang dapat kamu lakukan. Akan tetapi hindari aspirin atau obat antinflamasi nosteroid (OAINS) karena hal itu dapat memperparah pendarahan. Demam dapat mereda setelah 3-7 hari. Akan tetapi, kondisi ini bisa menjadi tahap yang kritis bagi pasien. Gejala yang lebih berat dapat muncul 1-2 hari berikutnya. Pada fase ini, dokter akan terus memantau kondisi pasien selama suhu badan pasien turun ke normal. Tidak ada metode khusus untuk menangani demam berdarah. Pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi virus semakin memburuk. Bila diperlukan, pasien akan diberikan asupan cairan melalui infus, dan pemberian cairan tersebut sambil dilakukan pemantauan detak jantung, denyut nadi, tekanan darah, dan jumlah urine yang keluar.

Terdapat 3 jenis, demam dengue, demam berdarah dengue, dan dengue shock syndrome. Sudah sering kita jumpai ketika nyamuk selesai menggigit kulit kita diarea tubuh seperti tangan dan lainnya. tanpa kita sadari virus yang dibawanya akan masuk dan mengalir kedalam darah kita. Ha ini faktor dari virus dengue yang telah lebih dulu inkubasi sampai akhirnya muncul gejala dalam 3 tahapan. Siklus pelana kuda atau yang biasa kita kenal dengan fase demam berdarah.

  1. Setelah virus mulai menginfeksi, fase pertama akan muncul ditandai dengan demam tinggi yang tiba-tiba dan bisa lebih dari 40 ºCelsius. Demam dapat berlangsung selama 2 sampai 7 hari. Selain demam, akan muncul gejala lain seperti nyeri sendi, nyeri otot, dan sakit kepala. Jika demam bertahan lebih dari seminggu, kemungkinan ini bukan disebabkan oleh DBD.
  2. Fase kritis. Setelah fase demam, pasien DBD biasanya akan mengalami fase kritis yang mengecoh. Disebut mengecoh karena pada tahap ini demam sudah turun drastis sehingga dianggap sembuh. Bahkan beberapa pasien ada yang sudah kembali beraktivitas normal. Padahal, di tahap ini pasien harus tetap mengikuti perawatan dan pengobatan dari dokter. Jika tidak, trombosit darah akan semakin sedikit. Inilah yang terkadang suka menyebabkan perdarahan yang tidak disadari. Fase demam berdarah ini harus cepat mendapatkan perawatan. Karena jika dalam 1 sampai 2 hari tidak juga ditangani, bisa mengakibatkan fatal terhadap sipenderita.
  3. Fase penyembuhan. Setelah fase kritis sudah dilewati dengan penanganan tepat, umumnya pasien DBD akan mengalami demam kembali. Akan tetapi, tidak perlu khawatir. Umumnya saat demam kembali naik, trombosit pun juga akan perlahan naik. Cairan tubuh yang tadinya turun selama dua fase pertama juga pelan-pelan mulai kembali normal. Orang yang sakit DBD bisa dikatakan bisa sembuh jika jumlah trombosit dan sel darah putihnya kembali normal setelah dites. Fase penyembuhan juga biasanya ditandai dengan nafsu makan yang meningkat, nyeri otot yang membaik, dan rutinitas buang air kecil kembali normal seperti sediakala. Sehingga dapat dikatakan memberikan hasil pengobatan demam berdarah yang maksimal.[1]

Demam berdarah bukan sebuah penyakit yang sederhana. Apabila sudah dirasakan gejala dari penyakit tersebut. Saran terbaik adalah lakukan segera pengobatan demam berdarah sebelum semuanya terlambat. Berikut beberapa pengobatan demam berdarah yang biasa disarankan oleh dokter misalnya, banyak istirahat, menghentikan semua katifitas untuk sementara hingga tubuh benar-benar dapat dipastikan pulih secara total. Pastikan makanan yang dimakan memiliki nutrisi atau gizi yang baik. Selanjutnya jangan lupa Meminum parasetamol atau acetaminophen untuk meredakan demam dan nyeri. ibuprofen, aspirin, atau naproxen sodium untuk meredakan gejala demam dan nyeri termasuk obat-obatan yang biasanya dilarang oleh dokter karena ketiga obat tersebut mendorong timbulnya pendarahan internal jika dikonsumsi oleh pengidap demam berdarah dan mempengaruhi kadar trombosit dalam darah.[2]

Sumber: Alodokter.com

[1] Sumber referensi Hellosehat.com

[2] Sumber referensi Halodoc.com

Related posts